Orang Utan Mencari Secercah Harapan Diambang Kepunahan


Orang Utan

Mencari secercah harapan di ambang kepunahan 

 Cerita Flora & Fauna - Jauh di dalam hutan hujan Kalimantan, hiduplah seekor orang utan muda bernama Rimba. Rumahnya adalah kanopi hijau yang tinggi, tempat ia berayun riang dari satu dahan ke dahan lain.



Setiap hari, Rimba memetik buah manis dan belajar dari kakeknya yang bijaksana, Akar. "Hutan ini adalah jantung kita, Rimba," bisik Akar, "jaga dia selalu."



Namun, belakangan ini, Rimba sering mendengar suara aneh—deru mesin yang memekakkan telinga. Pohon-pohon besar yang kokoh tiba-tiba menghilang.



"Kakek Akar," tanya Rimba dengan suara bergetar. "Mengapa rumah kita menjadi semakin kecil? Apakah kita akan kehabisan tempat untuk berayun?"



Akar menarik Rimba mendekat. "Nak, orang utan kita berada di ambang kesulitan besar. Manusia telah menebang hutan, tempat kita mencari makan dan berlindung. Kita hampir punah."



Kata 'punah' terasa berat. Rimba memikirkan sepupunya yang tidak lagi ia temui, dan pohon buah favoritnya yang kini hanya tinggal tunggul. Hati kecilnya terasa sakit.



Mereka harus pindah. Rimba dan Akar melakukan perjalanan panjang. Mereka melewati tanah yang gersang, tempat sisa-sisa hutan tampak seperti bayangan masa lalu.



Keputusasaan mulai merayap. "Di mana harapan itu, Kakek?" bisik Rimba, hampir menyerah. "Apakah hanya ada kegelapan?"



Akar berhenti dan menunjuk dengan jari oranye-nya yang panjang. "Lihat, Rimba. Lihat apa yang dilakukan sebagian manusia."



Di kejauhan, Rimba melihat sepetak kecil hijau. Itu bukan hutan yang lama, tapi sebidang tanah di mana beberapa manusia menanam tunas-tunas baru, seperti jarum-jarum harapan.



Itu adalah Pusat Konservasi. Rimba melihat orang utan lain—muda dan tua—yang diselamatkan dan sekarang belajar untuk hidup lagi di rumah yang baru. Mereka tidak sendirian.



Rimba tersenyum. Harapan bukanlah keajaiban yang menunggu di pohon tertinggi, melainkan tunas kecil yang ditanam dengan kerja keras. "Kita akan menolong, Kakek," katanya, matanya bersinar. Selama masih ada pohon untuk ditanam, akan ada secercah harapan.



Komentar