Sang Naga Purba
Cerita Flora & Fauna - Di sebuah pulau terpencil yang dikelilingi laut biru yang jernih, hiduplah seorang penjaga tua bernama Ora. Ia adalah seekor komodo yang gagah, sang naga purba yang telah melihat ribuan matahari terbit di atas bukit-bukit gersang.
Kulit Ora sangat kuat, bersisik keras seperti ukiran batu yang kokoh. Baginya, setiap jengkal tanah di pulau ini adalah rumah yang penuh dengan cerita dari zaman dahulu kala. Ora menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang ke udara. Dengan cara itulah ia "mendengar" bisikan alam, merasakan aroma mangsa atau keberadaan kawan dari jarak yang sangat jauh. Suatu hari, Ora bertemu dengan Sela, seorang komodo muda yang penuh semangat. Sela sedang berlari ke sana kemari, mencoba menangkap bayangannya sendiri di bawah pohon-pohon kering. "Anak muda, kau harus belajar untuk diam," kata Ora dengan suara yang dalam. Ia mengajak Sela untuk duduk bersama di bawah terik matahari, mengajari arti kesabaran yang sesungguhnya. Sela merasa sulit untuk tetap diam. Baginya, dunia ini terlalu menarik untuk hanya dipandangi. Ia terus saja menggerakkan kakinya yang kecil, tidak sabar ingin segera menjelajah. Ora tersenyum melihat tingkah Sela. Ia pun mengajak Sela masuk ke dalam hutan yang lebih rimbun untuk menunjukkan cara bergerak tanpa suara di antara dedaunan kering. Sela mengikuti dari belakang, mencoba mengatur langkahnya agar tidak menimbulkan bunyi "kresek" saat menginjak daun jati yang gugur. Ia mulai mengerti bahwa kekuatan naga bukan hanya pada gigitannya, tapi juga pada ketenangannya. Matahari semakin tinggi dan udara menjadi sangat panas. Ora membawa Sela menuju sebuah mata air rahasia yang tersembunyi di balik tebing batu yang dingin. Di sana, air yang jernih memancar dari sela-sela batu. Ora membiarkan Sela minum terlebih dahulu, menunjukkan bahwa seorang pemimpin naga selalu mendahulukan yang lebih muda. Setelah dahaga mereka hilang, Ora dan Sela beristirahat di atas sebuah batu besar yang datar. Batu itu terasa hangat dan nyaman untuk meregangkan otot-otot mereka yang lelah. Di dekatnya, Sela juga ikut berbaring. Ia merasa bangga bisa menghabiskan hari bersama sang naga purba yang bijaksana. Kini ia tahu bahwa menjadi komodo adalah tentang menjaga keseimbangan alam. Langit mulai berubah warna menjadi jingga dan ungu. Angin laut yang sejuk mulai bertiup, membawa aroma garam yang segar ke seluruh penjuru pulau. "Esok akan menjadi hari yang baru, Sela," ucap Ora. "Ingatlah apa yang kau pelajari hari ini. Kau adalah penerus penjaga pulau ini." Sela mengangguk dengan penuh tekad. Saat malam tiba dan bintang-bintang mulai menghiasi langit, kedua naga itu tertidur dengan lelap. Pulau Komodo pun tetap tenang dalam penjagaan sang naga purba dan penerusnya.














Komentar
Posting Komentar